![]() |
| Gedung pembangunan rumah penginapan Zaitun |
![]() |
| Pembangunan Gedung Skretariat Ikatan Keluarga Besar Walak (ISWAL) _Papua (Ilput-Share) _1 |
Dalam waktu yang sama Panitia menyampaikan akan lakukan pertemuan-pertemuan di lima wilah walak yang ada dan telah membentuk sembilan rayon khusus di Wilayah wamena. Tujuan pembentukan wilayah dan rayon adalah untuk melakukan pertemuan dan aksi-aksi dana untuk mendukun program pembangunan kedepan.
Dari pengurus ISWALwilayah pegunungan Provinsi Papua juga Bpk. Tenus Gombo, S.Pd, M.Pd menyampaikan ucapan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam sebesar besarnya atas nama Keluarga Besar Suku Walak (ISWAL) dimana saja berada atas bantuan dana sebesar Rp. 200.000.000 dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah. Kiranya Tuhan yang punya berkat akan memberkati dalam pelayanan di Kab. Mamberamo Tengah. (Irfy Wandikbo/Facebook).
Editor: E. Walela
![]() | ||||
| Pembangunan Gedung Skretariat Ikatan Keluarga Besar Walak (ISWAL) _Papua (Ilput-Share) _2 |
![]() | |
|
![]() |
| Kiri,kanan: doga,kudligagal,karoba,kenelak,wetipo,walela, |
![]() |
| Kiri,kanan: doga,kudligagal,karoba,kenelak,wetipo,walela, |
![]() |
| Kiri-Kanan: doga,kudligagal,karoba,kenelak,wetipo,walela,uaga |
![]() |
| Kiri,kanan: beni piter,melki |
![]() |
| Kiri-Kanan:,tengah,piter,kiri melki |
![]() |
| Kiri-Kanan: yahnno,diana |
![]() |
| rombongan keluarga besar mahasiswa solo. |
![]() |
| rombongan keluarga besar mahasiswa solo. |
![]() |
| kanan diana kiri paska,tenagh rinna |
Mamberamo tengah, WANI - Natal Ikatan Keluarga Walak (IKWAL) tahun 2014 lalu, di distrik Ilugwa Kabupaten Mamteng Prov. Papua, yang di Hadiri oleh bupati dan wakil bupati Kab. Mamteng, Ricky Ham Pagawak, SH. M.Si dan Jonas Kenelak, S.Sos, Serta presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt. Dorman Wandikbo, S. Th.
Berikut foto-fotonya:
Berikut foto-fotonya:
![]() |
| Pemda Mamteng bersama dengan Presiden GIDI |
![]() | |
| Bupati dan Wakil Bupati mamteng bersama Presiden GIDI. Kiri-Kanan, Ricky Ham Pagawak,Pdt. Dorman Wandikbo, dan Yonas Kenelak. |
![]() |
| Bupati dan Wakil Bupati mamteng bersama Presiden GIDI. Kiri-Kanan, Ricky Ham Pagawak,Pdt. Dorman Wandikbo, dan |
| No | Kode Pos | Desa | Kecamatan | Kabupaten | Provinsi |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 99557 | Danama | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 1 | 99557 | Danama | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 2 | 99557 | Ilugwa | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 3 | 99557 | Ilusimo (Ilusilimo) | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 4 | 99557 | Kalarin | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 5 | 99557 | Kalarin | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
| 6 | 99557 | Medlanggama | Ilugwa | Mamberamo tengah | Papua |
Sumber: DI SINI
![]() |
| Murit PAUD Yanggendaimo |
Post by: Mosseh Mabel
Sumber: DI SINI
Artikel Terkait:
- Simple, Namun Luar Biasa
![]() |
| Gedung Sekolah Tiranus (Ilugwa-Yanggendaimo) |
Lihat gedung Sekolah beratap alang-alang namun, sebangat belajar tidak dibatasi dengan fasilitas gedung seperti ini. Namun para tutor memiliki semangat yang tinggi menjalankan pendidikan di kampung sampai saat ini berjalan dengan baik. Dalam gedung sekolah seperti itu, namun dilengkapi vasilitas Komputer dan peralatan Teknologi lainnya untuk mendidik anak bangsa dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi. PKBM Tiranus Ilugwa menjalanka beberapa program yaitu antara lain:
1. Pendidikan Nonformal Berbasis Teknologi (Life Skill: Komputer
danBahasa Inggris)
2. Pendidikan Buta Aksara
3. PAUD dan program lainnya.
4. Paket A,B dan C
Mohon dukung DOA, DAYA dan DANA demi membangun SDM Papua masa depan yang BERKUALITAS.
Post by: Mosseh Mabel
Sumber: DI SINI
Artikel Terkait:
- Pendidikan di Papua, Perlu Perhatian Serius
PETA DISTRIK ILUGWA
Peta Distrik Ilugwa :: Google maps |
A. Masa Sebelum Pemerintah NKRI (distrik) Ilugwa.
Era sebelum lembaga musyawarah adat ini merupakan suatu era dimana eksistensi kehidupan masyarkat distrik Ilugwa berada dalam kebodohan dan kegelapan khususnya dalam pengembangan dan kesadaran akan pentingnya Pendikan dan sebagainya.
Pemahaman masyarakat tentang ilmu pengetahuan dasar dan sadar akan pentingnya hukum dan ilmu pengetahuan pada masa sebelum Lembaga Musyawarah Adat ini ada 2 (dua) evolusi masyarakat yakni masa penginjilan dan masa pembentukan distrik. Pentingnya penilaian kita terhadap evolusi masyarakat tersebut, maka penulis mengulas sedikit tentang kedua evolusi masyarakat tersebut pada bidang hukum.
Sebelum pemerintah Negara Republik Indonesia dapat diperhitungkan wilayah distrik Ilugwa sebagai suatu daerah areal pembangunan NKRI, dahulu membuka daerah distrik Ilugwa melalui misi agama yaitu melalui misi organisasi gereja. Misi organisasi gereja yang dimaksud adalah Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) yang hadir melalui bagian Timur yaitu di Danau Panagima. Para penginjil (Misionaris) mengunakan pesawat perintis (amphybi) mendarat pada tahun 1980 di danau tersebut. Injil tersebut meluas melalui bagian utara distrik Ilugwa di Bokondini kabupaten Tolikara sekarang dan selanjutnya sekitar tahun 1980-an bapak Yakia Mabel menyebarkan injil masuk kewilayah Ilugwa melalui jalan Ndanggunggodlek dan mendirikan gereja serta membuka lapangan terbang di kampung Yanggendaimo. Menurut bapak Tenden Logo selaku toko Gereja mengatakan bahwa: kehadiran misi gereja ini melalui sejarah dan masa kehadiran organisasi gereja Injili Di Indonesia hadir di kampung Yanggendaimo pada akhir tahun 1960-an, dengan kuasa Allah yang Kudus, maka hadirlah seorang hamba Tuhan yang bernama Tenden Logo untuk memberikan injil terang Kristus di kampung Ilugwa, dan juga ada beberapa Hamba Tuhan sebagai perintis pertama di kampung Ilugwa (sekarang distrik Ilugwa) serta dapat memilih pemimpin pengikutnya melalui kampung Yanggendaimo yaitu:
1. Tenggino Wandikbo;
2. Wurabekmende Gombo;
3. Dinggaga dan Lawe Wandikbo;
4. Lord Logo;
5. Tuwarek Doga.
Nama-nama tersebut sebagai tua-tua adat yang mendukung pekabaran injil Tuhan di kampung Ilugwa dan tersebar ke sebagian kampung didaerah Ilugwa pada tahun 1960 karena Kampung Ilugwa menjadi daerah penginjilan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), di distrik Ilugwa Kabupaten Mamberamo Tengah.
Dengan kehadiran organisasi gereja tersebut membawa dampak yang sangat positif bagi masyarakat Ilugwa sebab dalam ajaran-ajaran agama, ada suatu kegiatan yang mewujudkan unsur-unsur pengetahuan dan pengajaran, penanggulangan, aturan-aturan (liturgi gereja).
Unsur-unsur atau dasar-dasar pendidikan tersebut berupa penghafalan, penelitian penampilan, pembinaan, pelatihan pengobatan, perawatan dengan obat-obat modern, dan bahkan mengirim tenaga-tenaga masyarakat asli kebagian selatan dan bagian barat wilayah distrik Ilugwa guna membekali dan menambah pemahaman tentang pentingnya akan penerapan norma-norma tersebut. Pada tahun 1960-an hadirlah Kabar baik yang disebut Injil di kampung Ilugwa. Kehadiran tersebut kemudian membuka pengurus di distrik-distrik. Dalam perkembangan masyarakat ini perlu diketahui bahwa di daerah penginjilan GIDI dapat menginjili masyarakat Ilugwa oleh para penginjil.
Kehadiran lembaga musyawarah adat dari kabupaten Jayawijaya (kabupaten induk) langsung ke kampung Ilugwa dan daerah lain wilayah pemerintahannya dapat di pimpin oleh bapak Alfius Aud dan disusul berdirinya distrik Ilugwa.
Asal mula pembentukan distrik Ilugwa
Berbicara tentang asal mula pembentukan distrik Ilugwa, maka dengan jelas bahwa pemerintah telah hadir dan bertumbuh di daerah Ilugwa sebelum membentuk distrik secara permanen. Kehadiran pemerintah di Ilugwa memiliki jaringan gereja terutama dan kebiasaan hidup (budaya) yang dipimpin oleh bapak Alfius Aud (ketua LMA) dan bapak Dugibaga Tododly (polisi masyarakat) di tingkat distrik keduanya tersebut mempunyai misi kerjasama yang dapat menjalin antara pemerintah dan para tokoh agama. Jalinan kerjasama tersebut terwujud melalui laporan dari tokoh agama tentang pengembangan masyarakat di bidang hukum dan kejahatan. Kata kehadiran pemerintah melalui jaringan gereja bukan hanya karena laporan pihak penginjil saja, melainkan karena organisasi Gereja Injili Di Indonesia dapat melakukan kegiatan dan laporan untuk mendatangkan pemerintah.
Wujud dari unsur-unsur jaringan gereja yang dapat mendatangkan pemerintah adalah gereja membuka lapangan kerja di kampung-kampung yang bersifat swadaya masyarakat dan gereja sebagai suatu sarana untuk mendatangkan pemerintah di daerah Ilugwa yang kedua adalah gereja juga menyediakan pusat-pusat pendidikan yang dapat ditindak lanjuti oleh pemerintah. Melalui jaringan yang telah diuraikan diatas hadir di daerah Ilugwa pada tahun 1960-an (1960-1977) kehadirian pemerintah tersebut asal mulanya dari pemerintah kabupaten Jayawijaya (sebelum kabupaten Mamberamo Tengah dimekarkan) melalui distrik-distrik induk seperti distrik Kelela dan Wollo. Program pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah kabupaten di sektor upaya penaggulangan kejahatan seksual adalah pemerintah melakukan program pengangkatan kepala kampung dan lembaga masyarakat kampung (LMK). Program pengadaan gedung-gedung desa dan sarana hukum ini dapat di 5 (lima) kampung di distrik Ilugwa. Misi pemerintah ini sangat strategis dan berguna bagi masyarakat daerah Ilugwa namun sayangnya upaya penanggulangan kejahatan seksual tidak aktif dan hampir fatal karena terdapat beberapa faktor penghambat. Suatu faktor yang menjadi penghambat adalah karena aparat yang ditugaskan oleh pemerintah tidak lagi bertahan karena faktor kesadaran masyarakat tidak menjamin, minimnya tenaga penegak mengakibatkan pengadaan gedung-gedung dan sarana di kampung-kampung yang lain tidak berfungsi.
Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, kampung Ilugwa dan kegiatan penanggulangan tetap berjalan atas dukungan dari pihak lain. Pihak lain yang dimaksud adalah Gereja Injili Di Indonesia (penginjil atau misionaris). Kondisi perkembangan pelayanan pemerintah yang demikian itu semakin lama semakin berkembang akhirnya pada tahun 2005 daerah distrik Ilugwa dapat dibentuk menjadi distrik yang resmi dan permanen. Kepala distrik pertama di distrik Ilugwa dipimpin oleh Ibu Selesina Doga, S.Pd. Kemudian pelaksanaan pembangunan tetap berjalan aktif dan lancar melaui pemerintah kabupaten Jayawijaya. Setelah terbentuknya distrik Ilugwa pada tahun 2004 sampai pada tahun 2007 distrik Ilugwa masih termasuk dalam kabupaten Jayawijaya dan pada tahun 2007 dimekarkan kabupaten Mamberamo Tengah dan distrik Ilugwa termasuk dalam wilayah pemerintahan kabupaten Mamberamo Tengah. Dengan demikian daerah Ilugwa merupakan arah sebelum lembaga musyawarah adat di kampung Ilugwa yang dipimpin oleh bapak Yunus Babingga kepala distrik Wollo selama kurun waktu dua tahun. Pada masa ini kurangnya upaya penanggulangan kejahatan seksual pada remaja di Ilugwa belum ada perubahan kecuali penyediaan fasilitas dan perwakilan lembaga musyawarah adat yang disediakan oleh pihak pemerintah kabupaten Jayawijaya.
Kemudian berikut adalah peta dari beberapa distrik di suku walak, yakni:
Kemudian berikut adalah peta dari beberapa distrik di suku walak, yakni:
PETA DISTRIK WOLLO
Peta Distrik Wollo:: Google maps |
PETA DISTRIK ERAGAYAM
Peta Distrik Eragayam :: Google maps |
Perjanjian Baru merupakan bagian dari Alkitab yang memiliki peran penting untuk membina umat sehingga keberadaannya tidak terpisahkan dari kehidupan umat yang berkeinginan untuk mengenal dan memahami Alkitab. Untuk tujuan inilah, rencana penerjemahan Perjanjian Baru dilakukan untuk suku Walak di Papua.
Suku Walak, dengan jumlah penduduk sekitar 28.000 jiwa, tinggal di pegunungan tengah Papua, tepatnya di bagian utara Kabupaten Jayawijaya dan di bagian barat Kabupaten Mamberamo Tengah. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Walak, yang memiliki persamaan 20% dengan bahasa-bahasa suku di sekitarnya, seperti bahasa Lani, dialek Baliem, dialek Kimbim, dan sebagainya.
Namun, persamaan tersebut tidak cukup banyak menolong mereka untuk mengerti Alkitab yang sudah tersedia dalam bahasa Lani. Itu sebabnya, ketiadaan Alkitab dalam bahasa Walak menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh para pelayan umat serta umat Tuhan di suku Walak.
Dengan demikian, penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Walak diharapkan dapat menolong umat
Kristen di sana untuk mengenal Allah lebih dalam dan tidak tergerus oleh berbagai persoalan hidup. Kondisi ini juga mengundang kita untuk mendukung suku ini melalui doa dan dana sehingga dapat membuka wawasan dan kesempatan bagi umat Tuhan di Walak untuk memelihara dan memperdalam iman mereka.
Biaya yang dibutuhkan untuk proyek Penerjemahan Perjanjian Baru bahasa Walak adalah:
Suku Walak, dengan jumlah penduduk sekitar 28.000 jiwa, tinggal di pegunungan tengah Papua, tepatnya di bagian utara Kabupaten Jayawijaya dan di bagian barat Kabupaten Mamberamo Tengah. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Walak, yang memiliki persamaan 20% dengan bahasa-bahasa suku di sekitarnya, seperti bahasa Lani, dialek Baliem, dialek Kimbim, dan sebagainya.
Namun, persamaan tersebut tidak cukup banyak menolong mereka untuk mengerti Alkitab yang sudah tersedia dalam bahasa Lani. Itu sebabnya, ketiadaan Alkitab dalam bahasa Walak menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh para pelayan umat serta umat Tuhan di suku Walak.
Dengan demikian, penerjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Walak diharapkan dapat menolong umat
Kristen di sana untuk mengenal Allah lebih dalam dan tidak tergerus oleh berbagai persoalan hidup. Kondisi ini juga mengundang kita untuk mendukung suku ini melalui doa dan dana sehingga dapat membuka wawasan dan kesempatan bagi umat Tuhan di Walak untuk memelihara dan memperdalam iman mereka.
Biaya yang dibutuhkan untuk proyek Penerjemahan Perjanjian Baru bahasa Walak adalah:
Penerjemah Rp. 297.787.900,-
Pengetik Rp. 39.689.000,-
Perjalanan/Checking Rp. 300.000.000,-
Administrasi/Peralatan Rp. 60.900.000,-
Total Rp. 698.376.900,-
Dukungan dana yang sudah diperoleh sampai dengan akhir bulan Juni 2012 sebesar Rp. 417.147.300,-. Masih perlu diupayakan dana sebesar Rp. 281.229.600,-
Sumber: DI SINI
![]() |
| Amius Wandikbo/ Maleo |
![]() |
| Awii Aud |
![]() |
| Amius Wandikbo/ Maleo |
![]() |
| E Walela/ Eriick Walela |
![]() |
| Naiben Walela |
![]() |
| Marfin Doga |
![]() |
| Hendrik Walela |
![]() |
| Abia Walela |
![]() |
| Miel Wandikbo/ Nabiok |
![]() |
| Miel Wandikbo/ Nabiok |
| Panus Aud |
| Panus Aud |
![]() |
| Amius Wandikbo |
![]() |
| Ontas Aud |
![]() |
| Markus Endama |
![]() |
| Wene Doga |
![]() |
| Simon Uaga |
![]() |
| Naiben Walela |
![]() |
| Linus Kudligagal |
![]() |
| E Walela/ Eriic |
![]() |
| Yunipas Mabel |
![]() |
| E Walela/ Eriick |
![]() |
| Linus Kudligagal, and Yeven Walela |
![]() |
| Emsa Logo |
![]() |
| Yeven and Linus |
![]() |
| Yeven and Ereman Walela |
![]() |
| Robert Walela |
![]() |
| Apres, Robert, and Yeven Walela |
![]() |
| Charles Logo, Yeven Walela, and Christian Walela |
![]() |
| Yeven, Marfin Mabel, Lipis Mabel, Adres Walela, Lison mabel, and Thok Walela |
![]() |
| Frans Uaga, and E Walela |
![]() |
| Rince Walela and Yeven Walela |
| Siswa SMP Negeri Ilugwa |
| Eriic Walela and Kapten pilot Lion Air |















+2.jpg)
+3.jpg)
.jpg)



.jpg)






































